PENDIDIKAN dan PERUBAHAN?

5/07/2013



Oleh : Putra Rizki Pratama

Setiap tahun pada tanggal 2 mei, ramai orang-orang khususnya para kaum intelektual merayakan Hari Pendidikan Nasional. Baik itu dari kalangan SD (Sekolah Dasar) hingga ke jenjang strata yang lebih tinggi lagi. Paket acara yang disuguhkan pun bermacam-macam modelnya baik itu mulai dari apel (upacara), FGD (Focus Grup Discussion), seminar dan lain sebagainya. Seolah-olah mereka tak ingin merayakan sebuah event besar ini untuk melihat potret wajah dunia pendidikan saat ini. Di Indonesia sendiri perhatian yang diberikan pemerintah untuk dunia pendidikan tidaklah cukup kecil, angka 20% dari APBN dialokasikan secara khusus untuk menunjang percepatan pendidikan disetiap daerah. Tentunya ini menjadi berita yang sungguh menyegarkan ibarat orang dahaga terkena sapaan embun pagi. Kegembiraan yang telah dirasakan oleh semua orang saat mendengar berita ini lambat laun terjawab dengan rasa keprihatinan dan kekecewaan yang mendalam. Mengapa tidak, sejak diplotkan dana tersebut hingga saat ini wajah dunia pendidikan bukan semakin cantik karena polesan-polesan hasil dana yang besar melainkan semakin hancur dan meresahkan para pemerhatinya. Mungkin “embun” tersebut yang mampu menyejukkan kedahagaan itu telah membuat para pengelola dana tersebut menjadi larut dalam kesenangan dan mimpi-mimpinya karena telah melihat begitu besar nominal yang akan didapatnya. Sehingga sampai ini, masih banyak daerah yang tempat pendidikannya saja masih buruk bahkan ada yang tak memiliki lagi ruangan belajar karena rusak dimakan waktu, masih ada saja sekolah yang belum memiliki fasilitas penunjang proses belajar mengajar yang memadai. Pertanyaan yang sering terlontar dari mulut kalangan bawah adalah dibawa kemana dana itu? Apakah tak mampu melewati saringan jaring-jaring yang ada di dalam dompet pengelola atau tak mampu menembus jala-jala rekening pengelola dan penguasa.

Banyak sekali pertanyaan dan pekerjaan yang belum terselesaikan dengan baik. Capaian-capaian yang pernah digelontorkan baik dari pemerintah pusat hingga ke daerah belum tercapai menjadi pekerjaan bersama. Belum lagi jika kita mencoba melirik sedikit kepada para pendidik yang ada selama ini. Selama pengamatan penulis pribadi, masih banyak sekali praktek-praktek otoriterisme yang dilakukan oleh para tenaga pendidik. Seakan-akan ada sebuah semboyan yang tak mampu diruntuhkan “Guru/dosen tak pernah bersalah” sehingga membuat mereka menjadi antikritik bahkan menyaingi posisi dewa. Jika ada yang berani dan mencoba memberikan kritik-saran yang konstruktif maka akan langsung tergilas dengan pemotongan nilai. Belum lagi sifat kedikdayaan yang hampir terus dipelihara, buktinya para tenaga pengajar dengan gampangnya menunda proses belajar-mengajar dengan alasan mereka banyak kerjaan atau proyek, terbang kesana berangkat kesini. Namun disisi lain, para murid/mahasiswa mereka tak pernah memiliki kesempatan untuk mengutarakan keberatannya. Yang tentu saja ini telah jauh lari dari makna MENDIDIK yang diharapkan semua kalangan. Atau jika kita ingin mencoba meneropong lebih jauh lagi, sangat jarang bahkan “label tidak pernah” hampir bisa tersematkan kepada dunia pendidikan saat ini yang sudah sulit sekali melahirkan insan yang memiliki dasar keilmuan yang gemilang dan berakhlakul karimah. Walaupun ini sebenarnya ini bukan ajang untuk menyalahkan satu kalangan saja karena ini merupakan tugas bersama yang harus dilakukan dengan saling bergandengan dan bahu-membahu satu sama lain.

Hal yang perlu dilakukan adalah dengan mengubah metode yang selama ini digunakan. Kita buang semua metode “kerdil” yang masih digunakan, seperti membungkam suara-suara lantang yang konstruktif, dan menggantinya dengan metode yang sehat seperti membuka peluang dan waktu diskusi yang sehat dan para pendidik mampu memposisikan diri bukan hanya sebagai orang yang mentransfer ilmu namun menjadi teman konsultasi di sisi lain. Sehingga hasil yang akan dikeluarkan dari Sekolah / Universitas bukanlah lagi insan yang memiliki ijazah namun memiliki integritas dan kredibilitas sebagai kaum intelegensia yang mampu membanggakan dan memajukan bangsa dan daerah ini. Begitu pula para pemangku amanah dan pengelola dana pendidikan tak lagi “menjaring” dana-dana yang telah dialokasikan untuk menggendutkan pribadi sendiri. Mereka harus dengan sangat ikhlas dan ridha meneruskan dana-dana tersebut kepada pihak yang pantas menerimanya, karena semua ini merupakan amanah rakyat yang harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Agar mimpi-mimpi untuk memajukan dunia pendidikan tak hanya menjadi mimpi yang akhirnya mengabur dengan sendirinya.

Tak ada kata terlambat untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Bagaimana Jepang sebuah Negara yang bencana alam menjadi tamu “istimewa” setiap tahun bagi mereka masih terus mampu membenahi diri menjadi lebih baik. Malaysia, Negara tetangga kita tersebut juga mampu membenahi diri sehingga dunia pendidikan mereka mampu melahirkan generasi yang begitu mapan untuk membangun negeri. Indonesia, bukanlah sebuah negeri yang sangat tertinggal. Banyak kaum intelektual hasil rahim negeri ini yang sudah ada,tinggal bagaimana dan niat untuk merubah dan maju itu ditanamkan dengan sebaik-baiknya kedalam hati dan sanubari sehingga melahirkan azzam yang kuat dan bulat. Sejarah telah mencatat bagi setiap bangsa yang memiliki niat dan tekad yang kuat untuk bangkit dari keterpurukan akhirnya meraih hasil yang gemilang.

Semoga melalui peringatan Hari Pendidikan Nasional ini wajah dunia pendidikan mampu menemukan metode yang terbaik bagi dirinya dan berada pada tangan-tangan “arsitek visioner”. Sekali lagi, bukan kata “Tak Bisa & Tak Mungkin” yang harus terus diperdengungkan melainkan kalimat-kalimat penggugah semangat yang harus terus dikobarkan bagi generasi saat ini. Sehingga kita mampu mewariskan sebuah kemajuan dan peradaban yang gemilang kepada para generasi penerus. Dan kalimat pertanyaan, “dulu kakek-nenek kita,ngapain aja sampai-sampai gini hancurnya bangsa ini?!” tak akan pernah dikeluarkan dari lisan-lisan mereka.semoga.

Sumber : http://pemudabaroe.blogspot.com

* Putra Rizki Pratama, Sekretaris Jendral
Pengurus Besar Ikatan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Sabang (PB IPPEMAS) Tahun 2011-2013 dan Mahasiswa Prodi Teknik Elektro Fakultas Teknik Unsyiah.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
7 Mei 2013 pukul 16.28 delete

Izin Share yha pak Sekjen ke website kami, menyambut Harba Pendidikan Nasional,
AYO BANGKIT

Reply
avatar
7 Mei 2013 pukul 18.01 delete

Iya, saya atas nama admin mewakili Pak Sekjen mengizinkan Pak Semut White tuk share artikel ini. Semoga dengan momentum HARDIKNAS ini Pendidikan kita lebih bangkit lagi khususnya di ACEH.

Reply
avatar