![]() |
| Mualem foto bersama Menpora dan beberapa kepala daerah lainnya @istimewa |
BERBAJU dan celana serba hitam, Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf berdiri di depan spanduk besar berisi tulisan “Merajut Indonesia”. Pada spanduk itu terlihat gambar sekelompok wanita berpakaian adat Aceh sedang menari Saman.
Di hadapan Mualem, terlihat ratusan orang. Salah satunya, Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo. Hari itu, Selasa pekan lalu, Mualem menghadiri peluncuran program Merajut Indonesia. Ini program yang digagas Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Bertempat di halaman Graha Pemuda dan Olahraga Gedung Kementerian Pemuda dan Olahraga, Senayan, Jakarta, peluncuran program itu bertujuan meningkatkan kesadaran generasi muda mengenai pentingnya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan wawasan nusantara.
Kehadiran Mualem terkait ditetapkannya Sabang sebagai salah satu dari lima lokasi kegiatan bakti pemuda. “Program Merajut Indonesia ini harus diterjemahkan dalam arti yang seluas-luasnya. Bila Indonesia kita ibaratkan sebagai sebuah jala yang besar, maka yang banyak sobeknya ada di Aceh dan Papua,” ujar Mualem saat memberikan sambutan.
Menurutnya, hal itu terjadi karena Aceh selama 30 tahun dalam keadaan konflik. Akibatnya, banyak pemuda di Aceh tidak sempat bersekolah. Mereka tidak memperoleh keterampilan sehingga menjadi pengangguran.
“Oleh karena itu, bantuan keterampilan dari Kemenpora sangat diperlukan. Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten kota siap mendukung program Merajut Indonesia ini,” ujar Mualem.
***
KEGIATAN Merajut Indonesia dibuat Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk mengajak pemuda mengunjungi lima titik terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara lain.
Selain mengunjungi titik terluar, kata Roy Suryo seperti dikutip Republika, perwakilan pemuda juga diajak berbaur langsung dengan masyarakat perbatasan dan melakukan serangkaian kegiatan yang telah dijadwalkan.
Program yang baru pertama kali digelar ini akan dimulai dengan mengunjungi Miangas di Sulawesi Utara. Di sisi utara ini, Indonesia berbatasan langsung dengan salah satu negara ASEAN, yaitu Filipina.
Kunjungan ke pulau yang sebelumnya diklaim milik Filipina itu bertepatan dengan perayaan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei mendatang. Setelah Miangas, titik terluar Indonesia yang akan dikunjungi adalah Rote, Nusa Tenggara Timur (21-23 Juni), Sabang, Aceh (16-18 Agustus), Merauke, Papua (27-29 September), dan ditutup di Samarinda (26-28 Oktober) bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.
***
KEPALA Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh Syarifuddin mengatakan, kegiatan Merajut Indonesia yang akan diselenggarakan di Sabang dapat mendatangkan dua ribu lebih wisatawan ke Aceh.
Dua ribu wisatawan itu, kata dia, hanyalah rombongan dari pelaksana program Merajut Indonesia. Adapun turis mancanegara dan lokal yang mengunjungi Sabang karena tertarik melihat event tersebut, diperkirakan jauh lebih banyak.
Kegiatan Merajut Indonesia dapat mendukung Visit Aceh Year yang sedang digagas Pemerintah Aceh. “Kita belum duduk dengan Pemerintah Kota Sabang dan tim dari provinsi untuk membahasnya. Namun kegiatan ini sangat positif,” ujar Syarifuddin.
Sabang memang sejak lama sudah dikenal sebagai pusat wisatawan di Indonesia bagian barat. Sabang juga memiliki panorama alam indah. Merajut Indonesia diharapkan mampu membuat Sabang semakin terkenal di dunia.
Di Sabang terdapat danau air tawar bernama Danau Aneuk Laot. Ada juga Pantai Iboih yang terkenal dengan taman laut yang didiami ratusan jenis ikan. Selain itu, juga ada beberapa pulau kecil yang sangat menawan di Sabang, seperti Pulau Klah, Rondo, Rubiah, dan Seulako.
***
MUALEM menyambut baik dipilihnya Sabang sebagai salah satu tuan rumah. "Menurut kami program ini dapat mempererat tali persaudaraan di kalangan pemuda Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Acara ini merupakan bentuk pengabdian para pemuda dalam pembangunan bangsa," ujarnya.
Senada dengan tema kegiatan, Mualem juga meminta dukungan Kementerian Pemuda dan Olahraga agar Aceh menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional ke-20 tahun 2020. “Terkait hal ini, Gubernur Aceh telah mengirim surat kepada Presiden Indonesia dan ditembuskan kepada Menteri Pemuda dan Olahraga tertanggal 3 September 2012,” ujar Mualem.
Bahkan, kata dia, dalam pertemuan dengan Presiden SBY dan Wakil Presiden Boediono di Istana Negara pada 17 April lalu, harapan itu kembali diungkapkan oleh Gubernur Aceh. Presiden saat itu menyambut baik serta mendukung keinginan masyarakat Aceh ini. “Oleh karena itu, kita sangat berharap Kemenpora memberikan dukungan teknis agar Aceh dapat menjadi tuan rumah PON ke-20,” ujar Mualem.
Ia juga meminta Kementerian Pemuda membantu rehabilitasi bumi perkemahan Pramuka Seulawah. Bangunan-bangunan di tempat itu kini banyak yang rusak. “Baru-baru ini saya terpilih sebagai Ketua Kwarda Pramuka Aceh. Kami melaporkan kondisi Pramuka Aceh saat ini sungguh memprihatinkan,” ujar Mualem. Sebagian area perkemahan yang diresmikan Presiden SBY pada 2010 lalu, kata Mualem, kini menjadi hutan belantara dan tidak terpelihara.[] MURDANI ABDULLAH | ALFIANSYAH OCXIE
Sumber : Atjehpost

EmoticonEmoticon