Siapa yang tak mengenal dengan sosok Jokowi yang saat ini menjadi
Gubernur Jakarta. Sosok yang tengah naik daun karena beragam kegiatan
yang pro-masyarakat bahkan mencetuskan pola hidup pejabat yang
benar-benar menjadi pelayan masyarakat. Bahkan Gubernur yang dikenal
program blusukannya, masuk dalam kategori Pemimpin paling fenomenal di
Dunia menurut majalah TIME. Tentunya ini merupakan contoh yang baik
bagi kalangan pejabat di daerah lain. Namun, terlepas dari sosok dan
beragam kebijakan pro-masyarakatnya, tentunya popularitas yang didapat
oleh Jokowi tidak hadir dengan sendirinya. Hal ini berhasil dan mencapai
puncak popularitas karena kuat dan sehatnya pola kinerja Humas DKI
Jakarta. Yang terus mempublikasi setiap kegiatan dan kebijakan yang
diambil oleh pemimpin mereka.
Karena sebenarnya beberapa program yang dijalankan oleh Jokowi bukan
tidak telah dilakukan oleh beberapa daerah lainnya. Selain faktor
kebijakan pro-masyarakat sudah tentu efek “Ibukota” menjadi daya tarik
sendiri dalam dunia jurnalistik untuk menuliskan kisah-kisah yang ada di
dalamnya. Maka pertanyaannya, apakah daerah lain tak mampu mendapat
ruang di media massa untuk juga mempopulerkan daerahnya? tentu
jawabannya adalah semua daerah layak dan pantas mendapat ruang
di berbagai media massa untuk mempublikasikan berbagai kegiatan yang
tengah dan akan dijalankan oleh daerah tersebut.
Maka sukses atau tidaknya sebuah kegiatan tidak akan lepas dari
peranan pihak Humas Pemerintahan yang bertugas mempublikasikan kegiatan
tersebut, sehingga publik pun akhirnya dapat menilai dan melihat sendiri
fakta dilapangan. Oleh karena itu, bagian Humas dalam suatu
pemerintahan menjadi pondasi untuk membangun suatu daerah. Jika
Humas-nya lemah maka seberapa hebat pun kebijakan suatu daerah hanya
akan menjadi santapan lokal saja. Bahkan bisa jadi hanya menu obrolan
pekerja di lingkungan kantoran pemerintahan saja.
Hal inilah yang terjadi dalam tubuh pemerintahan Kota Sabang. Sabang
hanya terkenal karena faktor historis dan geografisnya sebagai tujuan
wisata saja. Walaupun dalam konteks promosinya pun sangat-sangat minim
karena terlalu impotennya Humas Kota Sabang dalam mewacancakan ke
berbagai media massa. Humas yang penulis maksudkan disini termaksud pula
bagian humas yang terdapat dalam instansi lainnya yang ada dalam
kawasan pemerintahan Sabang.
Hari ini, jika kita ingin mengakses informasi tentang Sabang maka
yang akan kita temukan adalah berita-berita lawas ataupun yang sudah
tidak update lagi. Sungguh menyedihkan, padahal saat ini Pemerintah Kota Sabang memiliki berbagai kegiatan yang sangat pro-masyarakat dan bahkan
mampu menjadi contoh untuk daerah lainnya. Salah satunya adalah program
bantuan pendidikan 2 juta per siswa mulai dari Sekolah Dasar (SD)
hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Program yang sangat patut diberi
apresiasi oleh masyarakat luas bahkan pihak Kementerian Dalam Negeri
sendiri memberikan apresiasi atas keberanian dalam melahirkan kebijakan
tersebut. Namun, berapa banyak masyarakat Sabang mengetahui hal
tersebut? lagi-lagi Humas mulai menumpuk “dosa” mereka karena terlalu
impotennya mengelola media.
Jika hal seperti ini tak mampu dikelola dengan baik, lantas kegiatan atau
tema seperti apa yang layak untuk dijamah oleh tangan-tangan Humas Kota
Sabang.???
Revitalisasi Humas Sabang
Suksesnya suatu daerah maka tidak akan terlepas oleh peran media.
Maka jika Pemerintah Kota Sabang ingin mendapat posisi di mata nasional,
dalam artian ranah masyarakat nasional bukan tataran pejabatnya saja,
tidak hanya karena historis destinasi wisatanya, maka pihak Humas harus
mampu menguasai media dengan sungguh-sungguh. Bahkan Sabang akan mampu
menyaingi Ibukota (Jakarta-red) dengan berbagai kebijakan
pro-masyarakatnya. Jika Jokowi mampu mendapat posisi di mata nasional,
maka Sabang pun akan lebih pantas untuk mendapat ruang apresiasi
masyarakat. Dengan kebijakan memberikan santunan duka untuk setiap warga
Kota Sabang yang meninggal sebesar 3 - 5 juta/warga meninggal. Daerah
mana yang berani memberikan kebijakan seperti ini.
Maka, bagian Humas Kota Sabang hari ini harus melakukan pembenahan
secara internal agar kebijakan-kebijakan bonafit yang telah dan akan
dilaksanakan mampu terekspose dan menjadi nilai lebih dari Kota Sabang
selain pariwisatanya. Karena Sabang pun mampu menjadi contoh dalam
kebijakan pro-masyarakatnya, bukan hanya pahlawan kemeja kotak-kotak
yang layak mendapat apresiasi dari ruang publik nasional. Bagian Humas
Pemko Sabang harus mampu menjadi lokomotif untuk jajaran humas yang ada
dalam instansi-instansi lainnya, dan mampu menjalin kerjasama yang baik
diantara sesama. Humas jangan terlalu bangga dengan impotennya mengelola
media, karena sukses atau tidaknya kegiatan akan sangat bergantung
kepada kekuatan media. Humas harus mampu menguasai semua ranah media
baik cetak maupun online, terlebih hari ini Sabang mendapat posisi yang
baik dihati internasional, maka Pemko Sabang harus mampu memiliki situs
resmi yang berbahasa internasional, minimal berbahasa Inggris. Hal ini
agar suasana kondusif dan bersahajanya Sabang mampu tersalurkan ke
kancah internasional. Humas juga harus mampu menjalin harmonisasi dengan
pihak-pihak yang telah terjun ke dunia maya dalam membantu tugas
kehumasan Pemko Sabang melalui website/blog pribadi yang lebih eksis
daripada website resmi pemerintahan. Jaya Humas Kota Sabang menuju
kejayaan Sabang.
EmoticonEmoticon