Oleh : Sulaiman
Pemilihan Umum seharusnya menjadi perekat dan pemersatu masyarakat, bukan sebaliknya menjadi pemicu perpecahan. Harapan ini tidak akan terjadi jika tiap-tiap kandidat peserta demokrasi memberikan pendidikan politik yang benar kepada para simpatisan dan pendukungnya serta kepada masyarakat.
Pelaksanaan Pemilukada silam juga tidak
seharusnya sekedar memilih pemimpin/wakil pemimpin yang akan
menjalankan roda pemerintahan tetapi juga harus mampu dijadikan sebagai
sarana pendidikan politik terhadap masyarakat.
Namun tidak semua partai politik selaku
eksekutor demokrasi melakukan hal itu melainkan sebaliknya, kebanyakan
dari mereka justru melakukan pembodohan politik melaui janji-janji palsu
yang diperankan oleh kontestasinya, bahkan ketika pesta demokrasi
tersebut telah berlangsung tidak jarang janji politik diabaikan.
Manifestasi dari bentuk kekecewaan
tersebut tentu membuat masyarakat enggan untuk menggunakan hak pilhnya
(abstain), sehingga kebanyakan masyarakat merespon pesta demokrasi
dengan sikap apatis dan tidak demokratis.
Belajar dari kasus pengrusakan atribut
kampanye serta kekerasan fisik menjelang akhir kampanye 2012 yang
terjadi di kawasan Balohan, Kecamatan Sukajaya, Sabang dan pemukulan
simpatisan partai politik lokal di kawasan Taman Ria, Kecamatan
Sukakarya, Sabang ketika kampanye sedang berlangsung.
Hal tersebut membuktikan bahwa pendukung
(simpatisan) partai politik yang umumnya adalah bagian dari masyarakat
Sabang belum bisa memaknai sikap politik kelompok masyarakat dan proses
demokratisasi politik secara integral dan terbuka sehingga membentuk
kubu-kubu liar yang tidak lagi terorganisir ketika pesta demokrasi itu
berlangsung bahkan menjadi bias ketika pesta demokrasi selesai.
Seharusnya kelompok-kelompok tersebut
bersatu kembali, melebur dan terlibat dalam pembangunan serta
mencurahkan ide dan gagasannya untuk bersama-sama membangun Kota Sabang
atas dasar kepentingan publik bukan politik.
Terlepas dari sikap non demokratisasi
diatas, menjelang momentum legislatif 2014, suasana perpolitikan di Kota
Sabang pun terlihat mulai memanas. Calon peserta legislasi sibuk
menggalang dukungan dari berbagai pihak. Basis-basis massa mulai
didatangi, beraneka ragam cara sedang dilakukan untuk menarik simpati
masyarakat.
Sepertinya para calon kontestasi lebih
mengedepankan pragmatisme dalam mendulang dukungan suara rakyat, ini
tentunya tidak mencerminkan seorang calon wakil rakyat, bahkan tidak
jarang mereka menampilkan sikap pragmatisme yang tercermin dari pola dan
tingkah laku dalam menarik dukungan massa.
Padahal, wakil rakyat sejati adalah
seseorang yang memiliki figure dan memahami problematika masyarakat
daerah pemilihannya dengan baik sehingga mampu mewakili dan menyuarakan
aspirasi masyarakat setempat.
Idealnya seorang wakil rakyat diusung
langsung oleh masyarakat setempat, karena seharusnya masyarakatlah yang
lebih tahu siapa yang lebih pantas mewakili mereka melalui informasi
dasar tentang calon wakil rakyat tersebut berdasarkan track record, horizontal learning
serta modal sosial bukan finansial, juga bukan dengan serta merta
menerima calon legislasi yang diusung oleh perwakilan partai politik
yang ada di daerahnya untuk mewakili aspirasi mereka melalui media
komunikasi politik (Iklan, Baliho,Spanduk, Poster, Brosur dan ID Card)
atau lebih di kenal dengan istilah “Jual Tampang/Peubloe Muka”
Oleh sebab itu, pencerdasan politik
sangat perlu dan penting dilakukan oleh pemerintah setempat, kalangan
intelektual, organisasi kemahasiswaan, Lembaga Sosial Masyarakat (LSM),
untuk menciptakan opini publik yang akan membangun kecerdasan politik,
kesadaran politik dan sikap politik masyarakat untuk dapat menggunakan
hak pilihnya dengan baik dan benar dalam pemilu legislatif 2014.
Pencerdasan politik tersebut dimaksudkan
untuk membuka wawasan masyarakat tentang hakikat dari demokrasi itu
sendiri, sadar akan hak dan kewajiban serta tanggung jawab politik
antara peserta pesta politik terhadap masyarakat daerah pemilihannya
seperti yang telah dijelaskan dalam Undang-undang No 2 Tahun 2008
tentang Partai Politik.
Sehingga kecerdasan politik masyarakat
jauh lebih baik dibandingkan mereka yang mengelola pembodohan politik
untuk kepentingan pribadi dan partainya. Artinya diperlukan gerakan
masal dalam mencerdaskan masyarakat, jika masyarakat sudah cerdas, maka
para caleg akan sangat hati-hati dalam melakukan aktifitasnya politik
legislasinya di Kota Sabang.
Sumber : http://mamanaja.wordpress.com
* Sulaiman, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Sabang Tahun 2011 - 2013
Sumber : http://mamanaja.wordpress.com
* Sulaiman, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Sabang Tahun 2011 - 2013

EmoticonEmoticon