Mutasi di Sabang, Antara Balas Budi atau Mutilasi ???!

9/21/2015
Putra Rizki Pratama (Ketum PB-IPPEMAS
Walikota Sabang mutasikan 47 Pejabat, begitulah judul berita pada harian Serambi Indonesia edisi 18 September 2015. Setelah mendapat informasi dan membaca berita tersebut secara spontan saya berujar "Ka Lom".
Muncul sebuah pertanyaan dibenak saya sebenarnya apa indikator mutasi itu dilakukan terlebih baru lebih kurang 4 bulan yang lalu mutasi juga dilakukan di jajaran Kota Sabang, apakah memang pejabat sebelumnya itu tidak becus sehingga harus dimutasi, jika ini kondisinya tentu ada yang salah dengan tim baperjakat maka yang paling layak dievaluasi adalah mereka karena telah salah memberikan masukan kepada kepala daerah. Atau jangan-jangan ada memang ada alasan lainnya. Jawabannya tentu pasti ada alasan lainnya.
Menurut saya secara pribadi, bahwa mutasi yang dilakukan dan [sering] terjadi dikota Sabang bukanlah semata-mata bentuk rotasi dan penyegaran jabatan ataupun sebagai sarana meningkatkan kapasitasi birokrat itu sendiri. Meskipun dalam sambutannya Pak Sekda Sabang yang mewakili Walikota menyebutkan "promosi dan mutasi jabatan adalah hal biasa, namun bukan pula sebagai kegiatan rutinitas". Kondisi yang terjadi malahan terlihat mutasi menjadi agenda rutinitas dalam tanda petik tentunya. Terlebih lagi saat ini, posisi SKPK merupakan posisi politis karena dia ditunjuk dan ditempatkan oleh Kepala Daerah. 
Keanehan yang menurut saya adalah mutasi ini dilakukan disaat pak walikota sedang tidak berada ditempat, karena sedang melakukan perjalanan keluar negeri untuk menjalin kerjasama dengan pemerintah norwegia. Dan terkesan begitu tiba-tiba dan emergency
Sehingga terkesan ajang mutasi menjadi sarana memutilasi seseorang atau menjadi pola Balas Budi, Bagi-bagi jabatan dan ajang unjuk kekuatan di ranah kekuasaan. Dan jika kondisi ini yang benar-benar terjadi maka sungguh sangat disayangkan, dikarenakan tidak lagi mengedepankan kualitas namun sudah menjadi ajang memuaskan sang kepala daerah itu sendiri.

Jika benar bahwa mutasi terjadi guna melakukan penyegaran birokrasi, lantas kenapa ada beberapa instansi yang mendapatkan rapor merah versi masyarakat tidak pernah tersentuh gelombang-gelombang mutasi sebelumnya. Sehingga muncul pertanyaan dan prasangka ada beberapa pimpinan SKPK yang Kebal Mutasi karena mampu mencuri hati sang kepala daerah sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam pertunjukan mutasi.

Maka saya selaku salah seorang pemuda dari Sabang, sangat berharap hal ini tidaklah terjadi. politik Balas Budi atau ajang "kaderisasi politis" demi kepentingan jangka pendek guna mengamankan sang kepala daerah tidak menjadi latar belakang terjadinya mutasi, bahkan lebih sangat disayangkan jika mutasi berubah menjadi sarana Mutilasi pejabat yang tidak mampu menyenangkan hati sang kepala daerah.
Kami sangat berharap bahwa mutasi dilakukan benar-benar atas dasar pertimbangan yang matang dan berdasarkan Kualitas dan Kapabilitas seseorang untuk menjabat sebagai pimpinan SKPK nantinya. Karena SKPK itu dibentuk untuk menjadi pelaksana teknis sang kepala daerah membangun dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat bukan kepada golongan dan/atau pribadi tertentu.
Terkait mutasi, sebaiknya tim Baperjakat berani mengekspose kepada publik landasan terjadinya mutasi. Karena hingga hari ini tidak ada yang mengerti alasan pasti seseorang layak dan patut menduduki kursi pimpinan SKPK. Dan diakhir saya berharap bahwa Sabang menjadi lebih baik dan benar-benar memikirkan kepentingan masyarakat.
Banda Aceh, 20 September 2015
Putra Rizki Pratama
Ketua Umum PB-IPPEMAS

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »